Senin, 01 Juli 2013

Tunggu Aku Di Batas Waktu

Linzy terbangun dari khayalnya. Bangkit mendekati jendela kaca didepannya. Yang ia pandangi selalu hanyalah dedaunan yang kering jauh dibalik jendela. Angin yang berhembus menjatuhkan dedaunan yang habis masanya seraya membunyikan lonceng kecil didekat jendela itu. Rambut hitamnya terkibas oleh lembutnya desah angin di siang itu. Ah, sungguh damainya siang itu.
Tak sejurus dengan hatinya, Linzy merasa bahwa hari ini adalah hari yang membuat hatinya gundah. Satu-satunya orang yang ia sayangi hendak meninggalkannya disini. Dirumah kecil tanpa siapapun. Tanpa orangtua yang bersamanya. Tanpa kakak-adik yang menemaninya. Hanya sang kasihnya-lah yang ada dalam fikirnya. Dalam lamunannya, linzy selalu teringat dengan ucapan-ucapan manis sang kasihnya. “Linzyku. Kau adalah pandaku yang manis. Senyum” ucapan itulah yang selalu teringat olehnya.
Desahan angin membuat suasanan menjadi dingin. Kota bandung kini semakin dingin. Linzy berbalik dan mengambil jaket hijau berlukiskan panda kecil dikantong kanannya. Perlahan ia menuruni tangga dan keluarlah ia menerjang dinginnya kota bandung. Melalui gang sempit ia bertemu seorang pria berbadan tinggi, sedikit gemuk, terlihat manis menurut Linzy. “Justin” Ucapnya tanpa ragu. “Kau masih disini? Kau tidak jadi pergi?”. Pria itu terkejut melihat Linzy dan lantas berlari meninggalkannya. “Hei. Ini aku Linzy” seru Linzy.
Linzy tidak berhenti disitu saja. Ia lantas berlari mengejar seorang pria yang menurutnya itu Justin, sang kasihnya. Setiap gang ia lalui. Menabrak orang yang berlalu lalang pun tak ia hiraukan, asalkan Justin didapatnya. Berlari. Berlari. Berlari. Hingga tembok besar didepan menghadadangnya. Seorang pria terlihat terengah-engah disudut tembok itu. Duduk.
“Justin!” teriak Linzy seraya mendekat pada sosok pria tersebut. Pria itu tak berani membalikkan badannya yang mulai lemas hingga akhirnya terjatuhlah ia. Linzy sontak memegang tangannya yang dingin dan berkata “Kamu memang Justin. Kenapa kamu lari dariku? Kamu pernah bilang kalau kamu mau pergi dengan orangtuamu. Keluar kota. Tapi mengapa kamu masih disini?. Masih penuh pertanyaan yang membelenggu dihati Linzy, namun ia hanya mengatakan itu saja. Pria itu tetap terengah-engah bak tenggelam dalam kolam yang keruh. Gelap. Dan dingin. Pandangannya pun semakin berbintik-bintik hingga sesekali hilang. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, pria tersebut mencoba meraih kembali tangan Linzy dan berusaha memeluknya. “Maafkan aku. Selama ini aku tidak pernah pergi Zy” bisiknya kepada Linzy. Linzy terdiam seribu kata. Dalam dadanya terdengar jantungnya berdegup bak marching band yang sedang pentas. Justin menunduk. Disudut tembok itu terasa hening. Angin semilir mengembangkan rambut hitam Linzy. Linzy masih dalam dekapan Justin.
“Justin. Kemana kamu selama ini?” Tanya Linzy. “Aku tidak tahu harus jawab apa?” Jawab Justin. Linzy menunduk. Hari itu begitu buram. Cahaya terang yang manis bercampur dengan buramnya kenyataan. Betapa terpukulnya seorang Linzy. Begitu cintanya ia pada Justin. Linzy tak peduli dengan apa yang dikatakan Justin, bagi Linzy semua adalah indah. Indah dengan Justin. Justin si “Tin-Tin” yang menawan baginya. Membayangkan bersamanya selalu, setiap hari. Kenangan tiga tahun yang lalu masih jernih teringat oleh Linzy. Saat Justin memberinya senyuman pertamanya. Disana, di teras kelas Linzy. Mereka yang masih lugu. Malu-malu saat bertemu. Indah jika semua terulang kembali, terulang setelah tiga tahun berlalu. Kini, mereka sudah berpisah. Justin yang berkata jika ia akan pergi bersama orangtuanya. Justin yang berkata ia akan melanjutkan sekolah diluar kota. Dan Justin yang berkata “Pandaku, i love you”. Linzy tak kuasa menahan rasa dalam hatinya. Pipinya mulai dibanjiri oleh air matanya.
“Maaf Panda. Aku berlari sejauh mungkin darimu dan aku berbohong kepadamu. Aku tidak mau kamu tau semuanya dariku” Jelas Justin seraya mengambil tangan Linzy. “Iya. Tapi kenapa harus pergi? Kamu bisa jelasin semuanya kan, Justin? Aku gak akan marah” Linzy menyambut tangan Justin dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Linzy terpukul sekali dengan pernyataan yang Justin utarakan. “Sekali lagi maaf. Hidupku sudah tidak lama lagi Linzy. Sewaktu-waktu malaikat berjubah hitam itu akan menjemputku. Bahkan sekarang pun jika mereka menginginkannya, mereka akan datang” Lanjutnya lagi. Linzy semakin bersedih. Ia tak dapat menghentikan air matanya. Justin sengaja berbohong pada Linzy jika ia akan pergi bersama orangtuanya, itu karena Justin tidak mau jika Linzy mengetahui apa yang selama ini Justin derita. Sudah lama Justin menderita penyakit yang misterius. Perawakannya memang sehat. Namun semuanya tak seperti yang dilihat. Linzy amat bersedih mendengar semua itu. Terasa bagaikan dihujam oleh bebatuan kecil secara bersama, hatinya teriris oleh kata-kata yang Justin ucapkan. Memang ini kenyataan, namun Linzy mengira bahwa semua itu hanyalah mimpi. Linzy menganggap semua hanya tipuan saja. Tapi itu nyata.
Matahari mulai menuruni bukit demi bukit. Menghilangkan cahaya disela-sela jemari tembok-tembok kecil. Linzy masih ada disana. Disudut tembok  tanpa ada jalan lagi. Bersama Justin ia disana. “Baik. Jika itu yang Justin pilih” Linzy memecahkan keheningan disana. Mengusap pipinya yang memerah karena terisak. Justin menganggukkan kepalanya. “Linzy juga akan pergi. Linzy akan menganggap Justin itu tidak ada. Semuanya hanya mimpi. Terima kasih Justin. Selama tiga bahkan sekarang tahu  keempatnya kamu menemani aku. Terima kasih Justin” Lanjutnya kembali. Linzy pun bangkit tanpa berkata satu kata pun. Tanpa menoleh kembali. Berjalan menyusuri gang sempit, pulang kembali ke rumah kecil yang ia tumpangi. Sementara Justin masih duduk ditempat tadi.
Keesokan harinya, Linzy beraktivitas layaknya hari-hari biasanya. Menyiapkan semangkuk sereal untuk pagi ini. Ditemani dengan secangkir cokelat hangat yang baru saja dituang dari teko antik miliknya. Duduk di kursi kecil dekat jendela, Linzy seakan tak ingat dengan kejadian yang baru saja ia hadapi. Semua bagaikan mimpi baginya. Hingga tiba-tiba “Tok, tok, tok” Suara pintu membuat Linzy terkejut dan menumpahkan secangkir cokelat hangatnya. Tanpa membersihkannya, ia langsung berjalan untuk membukakan pintu. “Maaf. Ada perlu apa, Mas?” Ucapnya. “Ini mbak, ada kiriman paket. Tolong tanda tangan disini” Jawab seorang kurir seraya memberikan paket dan sebatang pena. “Terima kasih mbak”.
Linzy pun membuka paket tersebut. Sebuah kotak berwarna coklat dengan bungkus plastik diluarnya. Perlahan ia buka satu persatu hingga ia menemukan secarik surat bertuliskan.
Dear Linzy,
Aku ingin bersahabat denganmu. Dengan sederhana. Dengan kata-kata yang tak sempat terucapkan oleh bibir kecilku. Dengan sikap yang tak sempat kulakukan didepanmu.
Bagaikan api kepada kayu, yang mengubahnya menjadi serpihan abu.
Bagaikan pena kepada kertas, yang mengubahnya menjadi penuh dengan coretan-coretan jelas nan indah. Namun terkadang penuh dengan kesalahan.
Linzy, aku ingin memilikimu lebih dari saat ini aku memilikimu. Namun, alam telah memisahkan kita. Aku ingin membahagiakanmu lebih dari saat ini kau bahagia. Namun semuanya takkan mungkin. Kini, yang aku inginkan hanyalah melihatmu tersenyum setiap membaca surat ini. Aku akan melihatmu disana...
                                                Justin Khan,
Tak terasa air mata Linzy berjatuhan. Deras sekali. Mengusapnya pun tak akan menghentikan alirannya. Kemudian Linzy membuka sebuah kotak dibalik surat itu diletakkan. Disana, Linzy melihat wajah-wajah ceria Justin saat bersama Linzy. Duduk di kedai kopi “Cemara”, bersantai di kantin sekolah, menulis bersama dikelas, bermain permainan yang lucu bersama teman-teman, dan semua tentang mereka. Hingga terlihat selembar foto terakhir. Foto saat Justin dirawat di rumah sakit. Justin yang terbaring lemah disana. Membuat Linzy terpaksa mengingat kejadian kemarin. Air matanya tak dapat dibendung lagi. Linzy masih saja mengubrak-abrik isi paket tersebut. Disana Linzy menemukan barang-barang kecil yang disukainya dan barang-barang milik Justin. Bahkan tiga helai rambut pun ada didalamnya. Ya, itu memang rambut. Rambut milik Justin. Linzy pernah marah kepada Justin, sangat marah bahkan. Linzy tak sadar jika ia sampai memukul, menjambak rambut Juastin. Itu hanya karena hal sepele. Justin yang jahil menyembunyikan gantungan kunci berbentuk pesawat milik Linzy. Sungguh kejahilan yang tak dapat dilupakan.
Satu jam telah berlalu. Linzy pun segera membereskan barang-barang yang ia berantakkan tadi dan menyimpannya rapih didalam kotak tadi. Linzy teringat bahwa hari ini adalah hari rabu dan ia harus segera berangkat ke tempat ia bekerja. Bekerja sebagai fotografer di salah satu perusahaan milik saudara ayahnya.
Justin,

Suatu hari nanti aku akan membahagiakanmu. Ingat itu. Tunggu aku Justin J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar