Linzy
terbangun dari khayalnya. Bangkit mendekati jendela kaca didepannya. Yang ia
pandangi selalu hanyalah dedaunan yang kering jauh dibalik jendela. Angin yang
berhembus menjatuhkan dedaunan yang habis masanya seraya membunyikan lonceng
kecil didekat jendela itu. Rambut hitamnya terkibas oleh lembutnya desah angin
di siang itu. Ah, sungguh damainya siang itu.
Tak
sejurus dengan hatinya, Linzy merasa bahwa hari ini adalah hari yang membuat
hatinya gundah. Satu-satunya orang yang ia sayangi hendak meninggalkannya
disini. Dirumah kecil tanpa siapapun. Tanpa orangtua yang bersamanya. Tanpa
kakak-adik yang menemaninya. Hanya sang kasihnya-lah yang ada dalam fikirnya.
Dalam lamunannya, linzy selalu teringat dengan ucapan-ucapan manis sang
kasihnya. “Linzyku. Kau adalah pandaku yang manis. Senyum” ucapan itulah yang
selalu teringat olehnya.
Desahan
angin membuat suasanan menjadi dingin. Kota bandung kini semakin dingin. Linzy
berbalik dan mengambil jaket hijau berlukiskan panda kecil dikantong kanannya.
Perlahan ia menuruni tangga dan keluarlah ia menerjang dinginnya kota bandung.
Melalui gang sempit ia bertemu seorang pria berbadan tinggi, sedikit gemuk,
terlihat manis menurut Linzy. “Justin” Ucapnya tanpa ragu. “Kau masih disini?
Kau tidak jadi pergi?”. Pria itu terkejut melihat Linzy dan lantas berlari
meninggalkannya. “Hei. Ini aku Linzy” seru Linzy.
Linzy
tidak berhenti disitu saja. Ia lantas berlari mengejar seorang pria yang
menurutnya itu Justin, sang kasihnya. Setiap gang ia lalui. Menabrak orang yang
berlalu lalang pun tak ia hiraukan, asalkan Justin didapatnya. Berlari.
Berlari. Berlari. Hingga tembok besar didepan menghadadangnya. Seorang pria
terlihat terengah-engah disudut tembok itu. Duduk.
“Justin!”
teriak Linzy seraya mendekat pada sosok pria tersebut. Pria itu tak berani
membalikkan badannya yang mulai lemas hingga akhirnya terjatuhlah ia. Linzy
sontak memegang tangannya yang dingin dan berkata “Kamu memang Justin. Kenapa
kamu lari dariku? Kamu pernah bilang kalau kamu mau pergi dengan orangtuamu.
Keluar kota. Tapi mengapa kamu masih disini?. Masih penuh pertanyaan yang
membelenggu dihati Linzy, namun ia hanya mengatakan itu saja. Pria itu tetap
terengah-engah bak tenggelam dalam kolam yang keruh. Gelap. Dan dingin.
Pandangannya pun semakin berbintik-bintik hingga sesekali hilang. Dengan sisa
tenaga yang ia miliki, pria tersebut mencoba meraih kembali tangan Linzy dan
berusaha memeluknya. “Maafkan aku. Selama ini aku tidak pernah pergi Zy”
bisiknya kepada Linzy. Linzy terdiam seribu kata. Dalam dadanya terdengar
jantungnya berdegup bak marching band yang sedang pentas. Justin menunduk.
Disudut tembok itu terasa hening. Angin semilir mengembangkan rambut hitam
Linzy. Linzy masih dalam dekapan Justin.
“Justin.
Kemana kamu selama ini?” Tanya Linzy. “Aku tidak tahu harus jawab apa?” Jawab
Justin. Linzy menunduk. Hari itu begitu buram. Cahaya terang yang manis
bercampur dengan buramnya kenyataan. Betapa terpukulnya seorang Linzy. Begitu
cintanya ia pada Justin. Linzy tak peduli dengan apa yang dikatakan Justin,
bagi Linzy semua adalah indah. Indah dengan Justin. Justin si “Tin-Tin” yang
menawan baginya. Membayangkan bersamanya selalu, setiap hari. Kenangan tiga
tahun yang lalu masih jernih teringat oleh Linzy. Saat Justin memberinya
senyuman pertamanya. Disana, di teras kelas Linzy. Mereka yang masih lugu.
Malu-malu saat bertemu. Indah jika semua terulang kembali, terulang setelah
tiga tahun berlalu. Kini, mereka sudah berpisah. Justin yang berkata jika ia
akan pergi bersama orangtuanya. Justin yang berkata ia akan melanjutkan sekolah
diluar kota. Dan Justin yang berkata “Pandaku, i love you”. Linzy tak kuasa
menahan rasa dalam hatinya. Pipinya mulai dibanjiri oleh air matanya.
“Maaf
Panda. Aku berlari sejauh mungkin darimu dan aku berbohong kepadamu. Aku tidak
mau kamu tau semuanya dariku” Jelas Justin seraya mengambil tangan Linzy. “Iya.
Tapi kenapa harus pergi? Kamu bisa jelasin semuanya kan, Justin? Aku gak akan
marah” Linzy menyambut tangan Justin dengan air mata yang tak henti-hentinya
mengalir. Linzy terpukul sekali dengan pernyataan yang Justin utarakan. “Sekali
lagi maaf. Hidupku sudah tidak lama lagi Linzy. Sewaktu-waktu malaikat berjubah
hitam itu akan menjemputku. Bahkan sekarang pun jika mereka menginginkannya,
mereka akan datang” Lanjutnya lagi. Linzy semakin bersedih. Ia tak dapat menghentikan
air matanya. Justin sengaja berbohong pada Linzy jika ia akan pergi bersama
orangtuanya, itu karena Justin tidak mau jika Linzy mengetahui apa yang selama
ini Justin derita. Sudah lama Justin menderita penyakit yang misterius.
Perawakannya memang sehat. Namun semuanya tak seperti yang dilihat. Linzy amat
bersedih mendengar semua itu. Terasa bagaikan dihujam oleh bebatuan kecil
secara bersama, hatinya teriris oleh kata-kata yang Justin ucapkan. Memang ini
kenyataan, namun Linzy mengira bahwa semua itu hanyalah mimpi. Linzy menganggap
semua hanya tipuan saja. Tapi itu nyata.
Matahari
mulai menuruni bukit demi bukit. Menghilangkan cahaya disela-sela jemari
tembok-tembok kecil. Linzy masih ada disana. Disudut tembok tanpa ada jalan lagi. Bersama Justin ia
disana. “Baik. Jika itu yang Justin pilih” Linzy memecahkan keheningan disana.
Mengusap pipinya yang memerah karena terisak. Justin menganggukkan kepalanya.
“Linzy juga akan pergi. Linzy akan menganggap Justin itu tidak ada. Semuanya
hanya mimpi. Terima kasih Justin. Selama tiga bahkan sekarang tahu keempatnya kamu menemani aku. Terima kasih
Justin” Lanjutnya kembali. Linzy pun bangkit tanpa berkata satu kata pun. Tanpa
menoleh kembali. Berjalan menyusuri gang sempit, pulang kembali ke rumah kecil
yang ia tumpangi. Sementara Justin masih duduk ditempat tadi.
Keesokan
harinya, Linzy beraktivitas layaknya hari-hari biasanya. Menyiapkan semangkuk
sereal untuk pagi ini. Ditemani dengan secangkir cokelat hangat yang baru saja
dituang dari teko antik miliknya. Duduk di kursi kecil dekat jendela, Linzy
seakan tak ingat dengan kejadian yang baru saja ia hadapi. Semua bagaikan mimpi
baginya. Hingga tiba-tiba “Tok, tok, tok” Suara pintu membuat Linzy terkejut
dan menumpahkan secangkir cokelat hangatnya. Tanpa membersihkannya, ia langsung
berjalan untuk membukakan pintu. “Maaf. Ada perlu apa, Mas?” Ucapnya. “Ini
mbak, ada kiriman paket. Tolong tanda tangan disini” Jawab seorang kurir seraya
memberikan paket dan sebatang pena. “Terima kasih mbak”.
Linzy
pun membuka paket tersebut. Sebuah kotak berwarna coklat dengan bungkus plastik
diluarnya. Perlahan ia buka satu persatu hingga ia menemukan secarik surat
bertuliskan.
Dear Linzy,
Aku ingin bersahabat denganmu. Dengan
sederhana. Dengan kata-kata yang tak sempat terucapkan oleh bibir kecilku.
Dengan sikap yang tak sempat kulakukan didepanmu.
Bagaikan api kepada kayu, yang
mengubahnya menjadi serpihan abu.
Bagaikan pena kepada kertas, yang
mengubahnya menjadi penuh dengan coretan-coretan jelas nan indah. Namun
terkadang penuh dengan kesalahan.
Linzy, aku ingin memilikimu lebih dari
saat ini aku memilikimu. Namun, alam telah memisahkan kita. Aku ingin
membahagiakanmu lebih dari saat ini kau bahagia. Namun semuanya takkan mungkin.
Kini, yang aku inginkan hanyalah melihatmu tersenyum setiap membaca surat ini.
Aku akan melihatmu disana...
Justin
Khan,
Tak
terasa air mata Linzy berjatuhan. Deras sekali. Mengusapnya pun tak akan
menghentikan alirannya. Kemudian Linzy membuka sebuah kotak dibalik surat itu
diletakkan. Disana, Linzy melihat wajah-wajah ceria Justin saat bersama Linzy.
Duduk di kedai kopi “Cemara”, bersantai di kantin sekolah, menulis bersama
dikelas, bermain permainan yang lucu bersama teman-teman, dan semua tentang
mereka. Hingga terlihat selembar foto terakhir. Foto saat Justin dirawat di
rumah sakit. Justin yang terbaring lemah disana. Membuat Linzy terpaksa
mengingat kejadian kemarin. Air matanya tak dapat dibendung lagi. Linzy masih
saja mengubrak-abrik isi paket tersebut. Disana Linzy menemukan barang-barang kecil
yang disukainya dan barang-barang milik Justin. Bahkan tiga helai rambut pun
ada didalamnya. Ya, itu memang rambut. Rambut milik Justin. Linzy pernah marah
kepada Justin, sangat marah bahkan. Linzy tak sadar jika ia sampai memukul,
menjambak rambut Juastin. Itu hanya karena hal sepele. Justin yang jahil
menyembunyikan gantungan kunci berbentuk pesawat milik Linzy. Sungguh kejahilan
yang tak dapat dilupakan.
Satu
jam telah berlalu. Linzy pun segera membereskan barang-barang yang ia
berantakkan tadi dan menyimpannya rapih didalam kotak tadi. Linzy teringat
bahwa hari ini adalah hari rabu dan ia harus segera berangkat ke tempat ia
bekerja. Bekerja sebagai fotografer di salah satu perusahaan milik saudara
ayahnya.
Justin,
Suatu hari nanti aku akan membahagiakanmu.
Ingat itu. Tunggu aku Justin J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar