Sabtu, 06 Juli 2013

Kita Beda, Tun... :(

Hallo sahabat...
Kali ini Nyi mau nyeloteh tentang Tun. Haha... lumayan lama Nyi ga pernah ngomongin dia. Yuk mari di baca...
~~~
Sudah sekitar satu tahun aku tidak bersamamu. Jika ditanya apakah aku rindu, tentu saja aku rindu. Aku rindu dengan panggilanmu kepadaku, “Pesek”. Telinga ini seakan rindu untuk mendengar kata sapa’an darimu.
Walau begitu, aku tak pernah lelah untuk mengenangmu. Bahkan memikirkanmu lebih tepatnya. Jika aku pikir, mungkin sekitar dua atau empat kali dalam sehari aku selalu teringat akan dirimu. Aku yakin tidak dengan kamu...
Beberapa hari yang lalu, aku melihat status di jejaring sosial-mu. Aku membaca statusmu itu. Sepertinya kamu sedang mendekati salah satu temanku, teman lamaku tepatnya. Aku akan memanggilnya “Mrs. Knife Third”. Karena sebelumnya sudah ada dua orang yang aku benci dengan alasan karena mencoba mendekatimu.
Rasa sedih memang ada, wajarlah. Galau? Pasti ada. Putus asa? Ya tentu, itu yang aku rasakan. Hampir saja aku berhenti untuk menyukaimu karena hal itu. Aku begitu karena aku sadar diri, Tun ! . Karena aku tahu jika Mrs. Knife 3rd itu lebih cantik dari aku, dan bahkan lebih kaya dari aku. Dan satu lagi alasan, dia satu jurusan dengan kamu, Tun. Dan itu menjadi alasan terkuatku untuk mengundurkan diri.
Mana mungkin seorang anak IP* dan IP* bisa bersatu? Sedangkan sekelompok dari kalian selalu mengejek kami dengan kata-kata “IP* bau!!! Isinya anak pinter semua! Huuu!!!”. Asal kalian tahu ya, kita itu sama. Kita sama-sama belajar disekolah yang sama. Dengan kalian mengejek begitu, otomatis pendekatanku dengan dengan Tun makin susah lah... L
~~~
Kembali lagi ke masa lalu. Kamu pernah mengatakan jika kamu bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, “Pesek, aku ini pengen jadi dokter. Tapi aku bingung mau masuk ip* atau ip*. Kalo ipa, aku susah di itung-itungan. Terus gimana dong. Kalo pilih ip*, jelas susah buat jadinya” kata dia. “Tenang aja, kan ada aku. Aku bakalan masuk ip* kok. Kamu bisa minta tolong aku kan... Kalo toh ga bisa ketemu aku, kamu masih bisa tanya sama temen kamu yang ada di kelas ip*. Pasti kamu bakalan punya temen baru...” Itu yang aku katakan kepadamu. Tapi kenapa kamu harus memilih jurusan yang berbeda denganku? Bukankah cita-citamu sebagai dokter? Dan kamu pernah bilang “Panggil aku Dokter Tyo” iya kan?
Sampai sekarang, pertanyaan itu masih saja menggelutiku. Setiap bertemu denganmu, aku ingin menanyakan itu. Tetapi apa daya, lisan ini sulit terbuka saat melihat kamu berjalan didepanku. Dan aku hanya bisa melihatmu dari situ, dari sebuah jendela kelasmu...

Enough...
Agak galau nih ceritanya. Maap ye kalau tulisannya jelek en gaje.

Sampai ketemu di tulisan berikutnya, okkay J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar