“Bruug” Mezty melemparkan tas kearah tempat
tidurnya yang masih berantakan. Dengan cat berwarna hijau muda dan lukisan
abstrak yang menggantung menghiasinya, dinding kost Mezty seakan menghipnotis Mezty
untuk menghilangkan kepenatan hari ini. Sejenak Mezty berbaring ditempat tidur.
Ia menoleh kearah kiri dan melihat mading kecil disebelah lukisan abstrak tadi.
Mezty melihat secarik kertas lusuh berwarna kecoklatan. Pada kertas itu
terdapat tanda tangan seorang pria dan tulisan “P’nam suka P’chone”.
Siang
ini begitu cerah, dengan kicauan burung gereja yang berterbangan diluar sana
membuat Mezty bangkit seraya mengambil headphone dan secarik kartas pada
madingnya. Seperti biasa, alunan suara merdu Angela Tee featuring Chris Ryan-lah
yang selalu didengar oleh Mezty melalui headphonenya. Mezty berjalan menuju
jendela kaca yang terbuka. Angin yang berhembus dari jendela membuat rambut
Mezty berkibar kecil. Tanpa ia sadari, angin itu pun membawa serta kertas yang
dipengangnya.
“Aduh”
ucap Mezty. Kemudian Mezty bergegas turun dan keluar dari kamar kost untuk
mengejar kertas miliknya yang terjatuh tadi. “Ih, dimana sih kertas ku tadi?
Padahal itu kan kertas paling berharga buatku” Mezty tetap mencari-cari kertas
miliknya itu. Ia menyusuri jalanan kecil didekat kostnya. Empat menit telah
berlalu, Mezty tetap tidak menemukan kertasnya. Namun Mezty tidak menyerah
begitu saja.
“Nah,
akhirnya ketemu juga”. Saat Mezty hendak mengambil kertasnya, namun ada seorang
pria yang mengambil kertas itu. Mezty langsung berdiri dan menatap wajah pria
yang ada didepannya itu. “Ini kan tanda tanganku” ucap pria itu dalam hati.
“Maaf, itu kertas saya Mas” ucap Mezty dengan polosnya. “P’nam suka P’chone?”
pria itu penasaran. “Ha, itu nama orang yang saya sukai Mas. P’chone” Mezty
tersenyum.
***Flashback***
“Nih,
aku kasih tanda tangan aku. Simpen baek-baek yo Mez” Wafda tersenyum. “Ih,
emoh. Emangnya kamu artis apa? Kalo dapet tanda tangan dari Dion Wiyoko sih,
its okay. Tapi kalo dari seorang Wafda, aku gak mau” Mezty menoleh kearah papan
tulis. Namun, dengan keisengannya, Wafda sengaja memasukkan kertas tanda
tangannya ke dalam tas Mezty.
***
“Kamu Mezty
ya?” pria itu semakin penasaran. “Sampeyan tau dari mana nama saya Mas?” jawab Mezty.
Tiba-tiba pria itu memeluk Mezty dan berkata “Aku Wafda. Mez. Kamu gak inget
sama aku?”. Mezty melepaskan pelukan pria itu.
“Wafda? Bukannya Wafda itu pindah keluar kota bersama keluarganya?”.
Pria itu hanya terdiam setelah mendengar Mezty berbicara seperti itu. Ternyata
pria itu adalah Wafda. Orang yang selama ini disukai oleh Mezty.
Mereka
duduk dan berbincang ditempat itu. Tempat saat Mezty menemukan kertas lusuhnya.
“Siapa yang kamu maksud P’chone itu?” tanya Wafda disela-sela keheningan sore
itu. “Dia itu motivator aku. Selama ini aku gak pernah tau dia ada dimana”
jawab Mezty. “Gimana caranya dia bisa memotivasi kamu? Mez?”. “Ya itu tadi. Ada
dikertas kusut tadi. Setiap pulang sekolah, aku selalu mencium kertas itu. Aku
yakin kalo dia itu masih ada. Walaupun sekarang wajahnya aja aku udah lupa,
empat tahun loh”. Wafda terdiam. “Aku punya prestasi bagus disekolah, karena
P’chone. Dan kamu tau siapa P’chone itu?” Mezty menatap mata Wafda. Wafda
menggelengkan kepalanya pertanda kalau ia benar-benar tidak tahu. Suasana
semakin hening dan matahari mulai menutup dirinya dengan awan senja. Mezty
meneteskan air mata seraya malanjutkan pembicaraannya. “P’chone itu adalah...
P’chone itu... P’chone itu kamu. Da”. “Apa?” Wafda menoleh kearah Mezty. Mezty
tidak bisa menahan air matanya lagi. Dan Mezty pun menangis. “Empat tahun ini
aku memendam rasa sukaku ini. Aku sering berkhayal bisa jadi special somene mu.
Tapi itu semua gak bisa. Ternyata Wafda pergi jauh, jauh banget. Aku cuma punya
ini, selembar kertas yang pernah kamu kasih ke aku. Dan ternyata ini magic.
Walaupun raga kamu jauh dari aku, tapi kertas ini Da. Mungkin Allah mengirimkan
setitik roh kamu di kertas ini”.
Apa ini
namanya cinta?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar