“Tring...
Tring... Tring...”. Deringan ponsel yang tak henti-henti itu membuat Devi
terkejut dan terbangun dari tidur lelapnya. Tangan kirinya pun menyambut
deringan ponsel itu dengan cepat. Ia mencoba membuka matanya yang masih berat
untuk melihat dunia. “Oh, iya. Hampir saja aku lupa”. Devi lantas bangkit dari
tempat tidurnya dan segera mengambil sebuah buku kecil dari sebuah laci
dikamarnya. “Nah, ini dia” Ucapnya sambil tersenyum. Devi mengeluarkan buku
kecil itu dari lacinya.
Belum
terlihat adanya tanda-tanda kedatangan sang surya dari timur. Seberkas pelita
alam pun bahkan tak berani menampakkan cahayanya. Disini, tak ada sedikit pun
suara manusia yang terdengar. Hanya sesekali terdengar suara ayam yang bermimpi
berusaha membangunkan manusia di pagi hari. Maklum saja jika semua itu terjadi,
ini baru pukul 23.45 tengah malam.
“Siip.
Akhirnya selesai juga”. Dalam sekejap, buku kecil itu sudah terbalut rapih
dengan sebuah kertas kado bergambarkan kartun kesayangannya, keroppi hijau.
Dengan pita keriting dibagian sudutnya, berwarna serasi dengan balutannya. Devi
tidak lantas tertidur kembali. Ia masih enggan untuk terlelap. Walau matanya
telah lelah terbuka, tetapi ia tetap berusaha untuk terjaga malam ini.
Selesainya
mengemas buku tadi, Devi lantas mengambil ponselnya dan menulis sebuah pesan
singkat.
“Kita semua, harus
merenungkan kembali hari-hari yang telah kita lewati. Sudahkah kita dapatkan
sesuatu yang lebih berarti untuk hari esok?”
Kak, selamat
ulang tahun ya...
Semoga kakak
selalu diberi kesehatan dan keselamatan. Serta sebuah kesuksesan yang selalu
menyertai setiap langkahmu. Aamiin...
Kak, temui aku
di belakang kelasku setelah jam sekolah selesai besok. Aku punya kejutan kecil
untuk kakak.
Salam, adikmu
yang tersayang J
Pesan
tersebut ia kirim kepada salah satu nomor di buku teleponnya. Tepat pukul 24.00,
pesan itu pun terkirim.
Keesokan
harinya, saat jam sekolah telah berakhir. Devi menunggu janji yang ia berikan
pada seorang lelaki tadi malam. Ia menunggu entah seberapa lamanya. Ia tak
sadar telah menghabiskan waktu selama satu jam tiga puluh menit untuk menunggu.
Dalam lamunannya, ia berharap agar laki-laki yang ia beri janji itu datang
tepat waktu dengan membawa sebuah senyuman yang manis.
Sebuah
kue berukuran sedang berhiaskan keroppi dengan senyuman merah muda tertata
rapih disebelah kanan tempat Devi duduk. Dan disebelah kirinya, sebuah kado
yang ia kemas tadi malam. Ia sengaja menaruhnya di bawah dengan alas selembar
kertas putih.
“Dev...”
Terdengar seorang lelaki memanggilnya. Memecahkan khayalannya tentang seorang
lelaki. Devi pun menyambar kadonya dan berdiri. Ia melihat seorang lelaki
dihadapannya. Tepat dihadapannya. Ini seperti mimpi gumamnya. Dan... sepertinya
ada lagi selain lelaki itu. Tapi siapa?
“Dev,
aku sudah menepati janjiku tadi malam. Kejutan apa yang kamu maksud tadi
malam?” Ucap lelaki itu dengan raut wajah dingin dan tanpa meminta maaf karena
telah membuat Devi menunggu. “Oh... Em... Selamat ulang tahun ya kak Riki”
Jawab Devi dengan sedikit gugup. “Kak? Maksudnya?” Seorang perempuan yang
bersama Riki tadi pun ikut berbicara. Devi tidak tahu jika lelaki yang ia beri
janji tadi malam itu ternyata membawa seorang perempuan.
Devi
pun tak sengaja menjatuhkan kado yang ia sembunyikan dibalik badannya. Kado
yang sejatinya akan ia berikan untuk seseorang, yaitu Riki. Devi tidak
menyangka jika Riki akan membawa seseorang selain dirinya sendiri. “Maaf. Aku
ada janji. Aku harus cepat-cepat pulang” Ucap Devi sambil berlari. Ia mencoba menyembunyikan
kesedihannya.
“Maksud
kalian apa?” Perempuan itu tetap saja bertanya-tanya. Sedangkan Riki, ia hanya
bisa terdiam dan melihat Devi berlari. “Ah, jangan-jangan kamu punya
selingkuhan? Iya?” Perempuan itu tetap saja bertanya-tanya namun tak
dihiraukan. “Aku bisa jelasin nanti” Jawab Riki. “Telat” Perempuan itu pun
meninggalkan Riki sendiri.
Masih
bingung dengan kejadian ini. Riki tidak tahu mengapa semuanya jadi begini.
Hingga kemudian, Riki melihat sebuah kado kecil di bawah kakinya. Ia mengambil
dan membuka kado tersebut. Dan ternyata, kado tersebut berisi sebuah buku
harian kecil bergambar keroppi disampulnya. Riki pun membuka lembar demi lembar
buku tersebut.
Lembaran
pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya ia baca. Hingga terjatuhlah secarik
kertas kusam dan kusut yang bertuliskan.
Aku merasa
berbeda. Aku merasa berbeda ketika aku berada disisimu. Tak pernah aku merasa
sedamai ini selain saat aku bersamamu. Tak pernah aku merasa sebahagia ini
selain saat aku dapat melihatmu. Walau hanya melihat dari kejauhan, tetapi itu
dapat membuat aku tersenyum.
Awal pertemuan
kita memang tidak dapat disangka, tidak dapat dibayangkan hingga seperti
sekarang ini. Bahkan, mustahil sekali jika ini akan terjadi.
Suatu hari, pernah
aku bermimpi. Aku bermimpi memberikan buku harian kecilku ini kepadamu. Tapi
apakah itu dapat terjadi? Sedangkan kamu bukan siapa-siapa untukku.
Kamu punya
kehidupanmu sendiri, dan begitu juga denganku. Tapi, aku ingin menyatukan itu.
Menyatukan dua kehidupan yang berbeda.
Dan kamu harus
tahu itu. Kamu harus tahu bahwa jauh didalam hatiku, aku menyayangimu. Dapatkah
kamu merasakan itu?
Dedek
Andri...
Air
mata Riki pun menetes. Selama ini ia tidak tahu jika ada seseorang yang lebih
menyayangi dia selain pacarnya sendiri. Dan orang itu ternyata bersamanya
selalu. Kini, Riki sudah mengetahui semua tentang perasaan Devi kepadanya. Ia
tak tahu harus berbuat apa, ia menyesal karena selama ini ia tidak pernah
mengetahui perasaan seorang yang hanya ia anggap sebagai sahabatnya saja.
The End
...quote...
“Janganlah
menutup hatimu jika kamu tidak mau seseorang tersakiti karena itu”