Minggu, 16 Juni 2013

Cerpen Pertamaku di Blog ini


Mengertikan Aku

“Tring... Tring... Tring...”. Deringan ponsel yang tak henti-henti itu membuat Devi terkejut dan terbangun dari tidur lelapnya. Tangan kirinya pun menyambut deringan ponsel itu dengan cepat. Ia mencoba membuka matanya yang masih berat untuk melihat dunia. “Oh, iya. Hampir saja aku lupa”. Devi lantas bangkit dari tempat tidurnya dan segera mengambil sebuah buku kecil dari sebuah laci dikamarnya. “Nah, ini dia” Ucapnya sambil tersenyum. Devi mengeluarkan buku kecil itu dari lacinya.
Belum terlihat adanya tanda-tanda kedatangan sang surya dari timur. Seberkas pelita alam pun bahkan tak berani menampakkan cahayanya. Disini, tak ada sedikit pun suara manusia yang terdengar. Hanya sesekali terdengar suara ayam yang bermimpi berusaha membangunkan manusia di pagi hari. Maklum saja jika semua itu terjadi, ini baru pukul 23.45 tengah malam.
“Siip. Akhirnya selesai juga”. Dalam sekejap, buku kecil itu sudah terbalut rapih dengan sebuah kertas kado bergambarkan kartun kesayangannya, keroppi hijau. Dengan pita keriting dibagian sudutnya, berwarna serasi dengan balutannya. Devi tidak lantas tertidur kembali. Ia masih enggan untuk terlelap. Walau matanya telah lelah terbuka, tetapi ia tetap berusaha untuk terjaga malam ini.
Selesainya mengemas buku tadi, Devi lantas mengambil ponselnya dan menulis sebuah pesan singkat.
“Kita semua, harus merenungkan kembali hari-hari yang telah kita lewati. Sudahkah kita dapatkan sesuatu yang lebih berarti untuk hari esok?”
Kak, selamat ulang tahun ya...
Semoga kakak selalu diberi kesehatan dan keselamatan. Serta sebuah kesuksesan yang selalu menyertai setiap langkahmu. Aamiin...
Kak, temui aku di belakang kelasku setelah jam sekolah selesai besok. Aku punya kejutan kecil untuk kakak.
Salam, adikmu yang tersayang J
Pesan tersebut ia kirim kepada salah satu nomor di buku teleponnya. Tepat pukul 24.00, pesan itu  pun terkirim.
Keesokan harinya, saat jam sekolah telah berakhir. Devi menunggu janji yang ia berikan pada seorang lelaki tadi malam. Ia menunggu entah seberapa lamanya. Ia tak sadar telah menghabiskan waktu selama satu jam tiga puluh menit untuk menunggu. Dalam lamunannya, ia berharap agar laki-laki yang ia beri janji itu datang tepat waktu dengan membawa sebuah senyuman yang manis.
Sebuah kue berukuran sedang berhiaskan keroppi dengan senyuman merah muda tertata rapih disebelah kanan tempat Devi duduk. Dan disebelah kirinya, sebuah kado yang ia kemas tadi malam. Ia sengaja menaruhnya di bawah dengan alas selembar kertas putih.
“Dev...” Terdengar seorang lelaki memanggilnya. Memecahkan khayalannya tentang seorang lelaki. Devi pun menyambar kadonya dan berdiri. Ia melihat seorang lelaki dihadapannya. Tepat dihadapannya. Ini seperti mimpi gumamnya. Dan... sepertinya ada lagi selain lelaki itu. Tapi siapa?
“Dev, aku sudah menepati janjiku tadi malam. Kejutan apa yang kamu maksud tadi malam?” Ucap lelaki itu dengan raut wajah dingin dan tanpa meminta maaf karena telah membuat Devi menunggu. “Oh... Em... Selamat ulang tahun ya kak Riki” Jawab Devi dengan sedikit gugup. “Kak? Maksudnya?” Seorang perempuan yang bersama Riki tadi pun ikut berbicara. Devi tidak tahu jika lelaki yang ia beri janji tadi malam itu ternyata membawa seorang perempuan.
Devi pun tak sengaja menjatuhkan kado yang ia sembunyikan dibalik badannya. Kado yang sejatinya akan ia berikan untuk seseorang, yaitu Riki. Devi tidak menyangka jika Riki akan membawa seseorang selain dirinya sendiri. “Maaf. Aku ada janji. Aku harus cepat-cepat pulang” Ucap Devi sambil berlari. Ia mencoba menyembunyikan kesedihannya.
“Maksud kalian apa?” Perempuan itu tetap saja bertanya-tanya. Sedangkan Riki, ia hanya bisa terdiam dan melihat Devi berlari. “Ah, jangan-jangan kamu punya selingkuhan? Iya?” Perempuan itu tetap saja bertanya-tanya namun tak dihiraukan. “Aku bisa jelasin nanti” Jawab Riki. “Telat” Perempuan itu pun meninggalkan Riki sendiri.
Masih bingung dengan kejadian ini. Riki tidak tahu mengapa semuanya jadi begini. Hingga kemudian, Riki melihat sebuah kado kecil di bawah kakinya. Ia mengambil dan membuka kado tersebut. Dan ternyata, kado tersebut berisi sebuah buku harian kecil bergambar keroppi disampulnya. Riki pun membuka lembar demi lembar buku tersebut.
Lembaran pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya ia baca. Hingga terjatuhlah secarik kertas kusam dan kusut yang bertuliskan.
Aku merasa berbeda. Aku merasa berbeda ketika aku berada disisimu. Tak pernah aku merasa sedamai ini selain saat aku bersamamu. Tak pernah aku merasa sebahagia ini selain saat aku dapat melihatmu. Walau hanya melihat dari kejauhan, tetapi itu dapat membuat aku tersenyum.
Awal pertemuan kita memang tidak dapat disangka, tidak dapat dibayangkan hingga seperti sekarang ini. Bahkan, mustahil sekali jika ini akan terjadi.
Suatu hari, pernah aku bermimpi. Aku bermimpi memberikan buku harian kecilku ini kepadamu. Tapi apakah itu dapat terjadi? Sedangkan kamu bukan siapa-siapa untukku.
Kamu punya kehidupanmu sendiri, dan begitu juga denganku. Tapi, aku ingin menyatukan itu. Menyatukan dua kehidupan yang berbeda.
Dan kamu harus tahu itu. Kamu harus tahu bahwa jauh didalam hatiku, aku menyayangimu. Dapatkah kamu merasakan itu?
Dedek Andri...
Air mata Riki pun menetes. Selama ini ia tidak tahu jika ada seseorang yang lebih menyayangi dia selain pacarnya sendiri. Dan orang itu ternyata bersamanya selalu. Kini, Riki sudah mengetahui semua tentang perasaan Devi kepadanya. Ia tak tahu harus berbuat apa, ia menyesal karena selama ini ia tidak pernah mengetahui perasaan seorang yang hanya ia anggap sebagai sahabatnya saja.
The End
...quote...
“Janganlah menutup hatimu jika kamu tidak mau seseorang tersakiti karena itu”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar