Jumat, 12 Februari 2016

Part 3

Masih dengan story yang sama. Mungkin kalian mulai bosan dengan postinganku, tapi... story ku belum selesai :D
kalian bisa baca story ku yang sebelumnya disini Part 1 dan Part 2
---
Third, aku gak perlu bahas panjang lebar tentang diriku di masa alay itu. Karena aku benci dan geli sama masa itu. Sekarang kita pindah ke masa SMA. Disini aku mulai fleksibel, gak sekaku kemarin. Mungkin aku mulai beradaptasi dan sedikit berlapang dada dengan apa yang terjadi sama aku kemarin. Disini, mungkin aku bukan satu-satunya manusia yang memperjuangkan kejujuran. Tapi kalau boleh jujur, perjuangan ini menyakitkan guys! Aku harus bertanding sama teman-teman aku yang sepertinya tidak jujur saat ujian. Aku harus bertahan selama yang aku bisa. Tapi tekadku kemarin, aku harus bisa kalahkan teman-teman aku. Karena aku tau mereka itu bukan apa-apa tanpa umpan. Banyak sekali usahaku, sangat! Lalu bukan hanya kejujuran yang aku perjuangkan, tapi prestasi. Aku cuma mau buktikan kalau dengan kita berlaku jujur itu kita pasti dapat buah yang manis. Aku dapat juara kelas, aku juara di olimpiade tingkat kabupaten, aku bahagia karena itu. Dan satu hal yang menjadi alasan kenapa aku segiat ini, itu karena salah satu laik-laki yang sampai saat ini belum bisa aku dapatkan. Kalian ingat ceritaku di chapther sebelumnya? Yaa... dialah yang jadi alasan aku jadi segiat ini. Prestasiku aku persembahkan buat dia. Terima kasih kamu...:)
Final exam, aku ketemu lagi dengan hari itu. Awalnya aku udah kasih kepercayaan sama teman-teman aku. Kita ini bisa! Tanpa umpan kita pasti bisa! Mereka meng”iya”kan kata-kataku. Tapi saat kita bertanding, masih saja ada teman-temanku yang mencari umpannya, masih saja ada ikan yang mencari kail, padahal mereka tau kalau kail itu berbahaya. Aku disini cuma bisa diam. Aku pilih pergi mencari makan sendiri daripada aku harus makan dari kail pancing itu. Aku tau kail itu akan merusak bibirku, aku tau itu... aku mulai benci sama teman-temanku. Sekali lagi aku kehilangan teman. Aku sedih, itu wajar. Aku juga emosi, tapi aku bisa apa? Yaudah aku pasrah aja. Sampai nilai ujian itu keluar dan aku dimaki habis-habisan sama mbakku. Mungkin aku perempuan gak berguna ya? Aku berbeda dengan mbak. Aku gak bisa seperti mbak. Coba mbak pikir, anak yang terlahir kembarpun pasti punya perbedaan. Jangan struktur DNA nya yang dilihat, tapi lihat saja letak tahi lalat mereka, pasti beda tempatnya. Apalagi kita yang bukan saudara kembar? Coba pikir lagi!
Jujur itu menyakitkan memang. Tapi ada rasa puas yang terbesit walaupun cuma sedikit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar