Ini story kedua aku ya guys. sebelumnya kalian kudu baca story yang pertama, tapi kalo kalian mau sih. Kalo gak mau yaudah, gak masalah. Klik aja disini Part 1
---
Second, dari sini udah keliatan bermuka dua kan? Aku rasa
iya! Well... ini masa dimana aku udah mulai remaja. SMP itu masa-masa paling
enjoy yang pernah aku rasain. Dimasa itu, aku gak pernah tau dengan yang
namanya juara kelas, bintang kelas, dan yang lainnya itu. Gak! Gak pernah
satupun! Yang aku tau itu cowo, pacaran, curhat-curhat alay, sayang-sayangan
gak jelas. Dan aku geli kalau aku harus inget masa ini, oh bitch! Aku gak mau
kembali lagi ke masa ini!
Beruntungnya aku, babe sama ibuk gak pernah nanya soal
prestasiku dikelas. Yang mereka tau aku belajar dengan sungguh-sungguh,
berangkat diantar babe dan pulang masih dengan babe. Tanpa mereka tau,
disekolah aku cuma pacaran. Aku udah pacaran 3 kali selama SMP. What?! Udah
mulai berasa kan kalau aku ini bermuka dua? Yah, sekali lagi masih dengan
alasan yang sama, berbohong demi kebaikan. Karena cuma pacaran yang bikin aku
jadi semangat sekolah. Karena cuma para lelaki itu yang jadi alasan aku buat
terus berangkat kesekolah. Oh betapa gilanya aku wkwkwk...
Tapi ada satu laki-laki yang sampe detik ini, belum bisa aku
dapetin.
Okkey, bukan masalah siapa laki-laki itu yaa... karena bukan
di chapter ini aku bakal bahas doi, tapi nanti di chapter selanjutnya. Kita
bersenang-senang dulu di masa alay. Jadi, suatu ketika pas aku naik ke kelas 9
(3 SMP), aku mulai sadar. Disana aku ditempa sama kakak perempuanku, aku biasa
panggil dia mbak. Aku dikasih tugas, dikasih materi, dikasih cubitan,
semuanyalah. Alasannya supaya aku lulus SMP. Dengan nilai yang memuaskan.
Tujuannya sih gitu katanya. Well... apapun itu, tapi ini bikin aku bersemangat
buat kalahin temen-temenku. Dari sini aku mulai merasa “oh seperti ini rasanya
SMP”. Belajar terus... bimbel terus... sampai akhirnya hari final exam datang.
Aku kecewa! Sangat kecewa! Dan kalian tau apa yang buat aku kecewa? “Kunci
Jawaban” what??? Apa maksudnya? Dari situ aku mulai menemukan siapa aku. Dari
kecil aku udah sering dengar orang bilang “berbohong demi kebaikan itu gak
papa” dan ini... final exam ini... aku udah buang kata-kata yang pernah aku
dengar dulu, aku berniat untuk berubah, aku udah berusaha mati-matian tapi
kenapa aku diberi umpan dengan cuma-cuma? Ibaratnya seperti kalian yang mau
mancing, terus kalian kasih umpan ke ikan dan kalian tinggal gitu aja. Kalian
gak terlalu berambisi buat dapet ikan, dapet disyukuri, gak dapet yaudah. Ada
ikan yang rela berebut makanan dari kail itu dan ada ikan yang berusaha
menghindar tapi sebenarnya dia lapar. Dan mungkin itu aku. Ikan itu adalah aku,
dan pemancing itu adalah guruku.
Semenjak
itu aku kehilangan teman-teman. Masa ceriaku berubah jadi sendu (mungkin). Yang
ada dipikiranku itu adalah memusuhi semua teman. Aku merasa aku lebih hebat
dari mereka. Aku bisa, bahkan tanpa umpan seperti yang mereka makan. Dari situ
pikiranku tentang “berbohong demi kebaikan” itu mulai hilang. Aku coba pikir
lagi, di dunia ini, mana ada yang namanya berbohong itu baik? Berbohong itu
dosa! Kalau semua orang masih percaya sama kata-kata itu, berarti itu salah.
Kalian salah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar