Jumat, 23 September 2016

2016

2016...
Banyak sekali cerita di tahun ini. Aku pernah bahagia sebahagia yang pernah aku rasakan, pernah sedih sesedih yang pernah aku rasakan.
Tahun ini tahun yang amazing untuk aku. Aku kadang ingin senyum karena cerita yang ditulis di tahun ini, tapi kadang air mataku jatuh saat aku mencoba menulis semua yang terjadi padaku.
Di tahun ini, aku kehilangan orang yang mati-matian pernah aku bela. Aku perjuangkan dia agar bisa bersamaku tapi... teguran manusia kurang kuat melarangku hingga Allah memisahkan aku dengan dia. Bahagialah kamu dengan orang barumu yaa...
Jujur, aku kecewa. Kamu manis ya. Tapi kamu jahat. Membawa pergi hati yang aku titipkan padamu dan membuangnya entah dimana. Tanpa dosa kamu mengenalkan orang barumu didepan mataku. Walau tak ada sepatah kata pun yang kamu ucapkan untuk mendeskripsikan orang itu, tapi aku paham. Paham sekali...
Tapi di tahun ini juga, aku bertemu laki-laki hebat yang mampu membuka hatiku dan mencoba membuang “monokotil” dalam hidupku. Menghapus kekecewaanku terhadap manusia jahat yang pernah aku kenal sebelumnya. Dia menjadi tokoh baru dalam ceritaku. Aku tidak yakin jika dia ingin selamanya bersamaku. Tapi, aku yakin seribu persen aku akan bersamanya selamanya. Aku tidak pernah tahu apakah dia selalu menyebut namaku dalam doanya. Tapi, aku tidak pernah telat menyebut namanya dalam setiap sujudku kepada Allah. Aku mencoba mengenalkan dia kepada-Nya. Jadikan dia laki-laki terbaik setelah ayahku... aamiin...
Dia, laki-laki yang selalu membuatku menangis karena aku ingat akan semua kesalahanku. Menasihatiku setiap aku mulai putus asa. Menemaniku saat aku kehilangan surgaku. Dia selalu membuatku tersenyum. Terimakasih kamu... maaf aku pernah jauh dari kamu. Membuatmu kecewa mungkin terjadi setiap hari selama kamu mengenalku. Maaf...
Tahun ini juga... mengajarkanku untuk menjadi gadis yang mandiri. Aku kehilangan surgaku di tahun ini. Sedih, iya. Menyesal pasti. Banyak hal yang belum aku lakukan bersama ibuku. Aku ingat sekali saat terakhir tanganku mengusap tangan ibu dan berkata “Bu... banyak hal yang belum aku lakuin buat ibu. Ibu belum melihatku memakai toga. Ibu belum melihatku dipelaminan. Ibu belum mengajariku bagaimana jadi istri dan ibu yang terbaik”. Ucapan itu yang aku lafalkan berkali-kali hingga selimut menutup seluruh tubuh ibuku.
Surgaku bukan dibawah lagi. Surgaku berada di surga...


2016...
Tahun luar biasa. Aku yang manja setengah mati dipaksa menjadi mandiri dalam hitungan hari. Sekarang, aku hanya dapat mengenang semua tentang ibu. Tak bisa melihat wajahnya lagi, tak bisa mencium tangannya lagi, tak bisa bermanja di teras rumah lagi setiap senja datang. Jujur, itu yang selalu aku rindukan dikala senja datang.
ibu, ibu adalah perempuan hebat yang pernah aku tahu. ibu tetap diam walau banyak hinaan dan cibiran diluar sana. tetap menyayangi anaknya walau anaknya pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. tetap membela kami, anaknya, dalam segala hal. aku rindu itu... aku rindu dibela oleh ibu, aku rindu semua tentang ibu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar