2016...
Banyak sekali cerita di tahun ini. Aku pernah bahagia sebahagia
yang pernah aku rasakan, pernah sedih sesedih yang pernah aku rasakan.
Tahun ini tahun yang amazing untuk aku. Aku kadang ingin
senyum karena cerita yang ditulis di tahun ini, tapi kadang air mataku jatuh
saat aku mencoba menulis semua yang terjadi padaku.
Di tahun ini, aku kehilangan orang yang mati-matian pernah
aku bela. Aku perjuangkan dia agar bisa bersamaku tapi... teguran manusia
kurang kuat melarangku hingga Allah memisahkan aku dengan dia. Bahagialah kamu
dengan orang barumu yaa...
Jujur, aku kecewa. Kamu manis ya. Tapi kamu jahat. Membawa
pergi hati yang aku titipkan padamu dan membuangnya entah dimana. Tanpa dosa
kamu mengenalkan orang barumu didepan mataku. Walau tak ada sepatah kata pun
yang kamu ucapkan untuk mendeskripsikan orang itu, tapi aku paham. Paham
sekali...
Tapi di tahun ini juga, aku bertemu laki-laki hebat yang
mampu membuka hatiku dan mencoba membuang “monokotil” dalam hidupku. Menghapus
kekecewaanku terhadap manusia jahat yang pernah aku kenal sebelumnya. Dia
menjadi tokoh baru dalam ceritaku. Aku tidak yakin jika dia ingin selamanya
bersamaku. Tapi, aku yakin seribu persen aku akan bersamanya selamanya. Aku
tidak pernah tahu apakah dia selalu menyebut namaku dalam doanya. Tapi, aku
tidak pernah telat menyebut namanya dalam setiap sujudku kepada Allah. Aku
mencoba mengenalkan dia kepada-Nya. Jadikan dia laki-laki terbaik setelah
ayahku... aamiin...
Dia, laki-laki yang selalu membuatku menangis karena aku
ingat akan semua kesalahanku. Menasihatiku setiap aku mulai putus asa.
Menemaniku saat aku kehilangan surgaku. Dia selalu membuatku tersenyum.
Terimakasih kamu... maaf aku pernah jauh dari kamu. Membuatmu kecewa mungkin
terjadi setiap hari selama kamu mengenalku. Maaf...
Tahun ini juga... mengajarkanku untuk menjadi gadis yang
mandiri. Aku kehilangan surgaku di tahun ini. Sedih, iya. Menyesal pasti. Banyak
hal yang belum aku lakukan bersama ibuku. Aku ingat sekali saat terakhir
tanganku mengusap tangan ibu dan berkata “Bu... banyak hal yang belum aku
lakuin buat ibu. Ibu belum melihatku memakai toga. Ibu belum melihatku
dipelaminan. Ibu belum mengajariku bagaimana jadi istri dan ibu yang terbaik”.
Ucapan itu yang aku lafalkan berkali-kali hingga selimut menutup seluruh tubuh
ibuku.
Surgaku bukan dibawah lagi. Surgaku berada di surga...
2016...
Tahun luar biasa. Aku yang manja setengah mati dipaksa
menjadi mandiri dalam hitungan hari. Sekarang, aku hanya dapat mengenang semua
tentang ibu. Tak bisa melihat wajahnya lagi, tak bisa mencium tangannya lagi,
tak bisa bermanja di teras rumah lagi setiap senja datang. Jujur, itu yang
selalu aku rindukan dikala senja datang.
ibu, ibu adalah perempuan hebat yang pernah aku tahu. ibu tetap diam walau banyak hinaan dan cibiran diluar sana. tetap menyayangi anaknya walau anaknya pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. tetap membela kami, anaknya, dalam segala hal. aku rindu itu... aku rindu dibela oleh ibu, aku rindu semua tentang ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar